Rangkuman "Prospek Ekonomi Indonesia 2014"

6:30 PM
 Oleh KEN (Komite Ekonomi Nasional)

Perekonomian Global

Kinerja perekonomian global di tahun 2013 lebih lemah dari perkiraan semula. Emerging economy yang sempat diharapkan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dunia menggantikan negara-negara maju, ternyata mengalami perlambatan pertumbuhan yang cukup signifikan, sementara negara-negara maju tampak memperlihatkan perbaikan yang menjanjikan.

Di Asia, pertumbuhan China terus melambat. India pun mengalami masalahnya sendiri. Ekonominya terus melambat dan nilai tukarnya pun terus terpuruk. Negara berkembang di dunia lainpun tampak mengalami perlambatan pertumbuhan juga. Brazil, misalnya diperkirakan hanya akan tumbuh 2,5 persen di tahun 2014. Sementara Meksiko diperkirakan akan tumbuh dengan laju 1,2 persen.

Sebaliknya ekonomi negara-negara maju tampak mulai stabil dan bahkan menunjukkan prospek perbaikan yang lebih menjanjikan. AS, misalnya, memperlihatkan tanda-tanda perekonomian yang semakin baik. Keadaan ini bahkan sempat membuat the Fed berencana melakukan tapering, yang sempat mengguncang pasar finansial dunia. Perekonomian AS diperkirakan akan tumbuh dengan laju 2,6 persen di tahun 2014, lebih cepat dari 1,6 persen di tahun 2013.

Jepang pun menunjukkan kinerja ekonominya yang cukup baik, didorong oleh Abenomics nya, yang terdiri dari tiga mantra kebijakan yaitu fiskal stimulus yang masif, kebijakan moneter yang longar dari bank sentral Jepang, dan strategi pertumbuhan ekonomi untuk mendorong investasi swasta. Target-target spesifik, antara lain, mencakup menaikkan target inflasi hingga 2 persen, dan menaikkan defisit anggaran 2013 menjadi 11,5 % dari PDB. Abenomics berdampak pada pelemahan Yen yang amat signifikan, membuat produk Jepang mengalami peningkatan daya saing di pasar International, maupun di pasar Jepang sendiri. Pertumbuhan ekonomi Jepang pada tahun 2014 diperkirakan akan tumbuh dengan laju 1,6%.

Sementara itu, Eropa sudah memberi indikasi bahwa kawasan tersebut sudah melewati titik terendah dari siklus penurunan ekonominya. Banyak ekonom yang mengatakan Eropa sudah keluar dari resesi, dan akan mulai tumbuh positif di tahun 2014. Para ekonom memperkirakan ekonomi Eropa akan tumbuh dengan laju 1% di tahun 2014.

Sejak tahun 2012 pertumbuhan ekonomi China terus melambat. Pada tahun 2012 perekonomian China tumbuh dengan laju 7,7 persen. Pada tahun 2013 target pertumbuhan sebesar 7,5 % diperkirakan akan tercapai. Pertumbuhan PDB China utamanya didukung oleh investasi yang mencapai lebih dari setengah tingkat pertumbuhan PDB, disusul oleh konsumsi dan ekspor, dengan pertumbuhan masing-masing 3,4 % (YoY) dan 0,1 %. Mereka berencana untuk meningkatkan kontribusi konsumsi dalam negeri terhadap perekonomian, yang saat ini berada di sekitar 46% PDB. Hal ini dilakukan agar mesin pertumbuhan ekonominya lebih berimbang, sehingga ekspansi ekonomi yang terjadi menjadi lebih berkesinambungan. China diperkirakan tumbuh dengan laju 7,4 % ditahun 2014, sedikit lebih lambat dari perkiraan sebesar 7,6 % di tahun 2013.

Perekonomian India terus mengalami perlambatan. Pada tahun 2010 ekonomi India tumbuh dengan laju 10,1 %, turun menjadi 6,8% di 2011, dan menjadi 5,1 % di 2012. Di tengah perlambatan ekonomi yang terjadi saat ini, perekonomian India juga mengalami tekanan sentimen negatif yang disebabkan oleh defisit transaksi berjalan. Impor yang jauh lebih besar dari ekspor membuat neraca perdaganan India mengalami defisit. Pada triwulan kedua 2013 defisit perdagangan India mencapai US$ 21, 8 milyar. Sementara itu, pelemahan mata uang Rupee telah memicu Bank Central India menaikkan suku bunga acuan menjadi 7,5 %. Selain itu, bank sentral juga mengetatkan likuiditas di sistem financial mereka, dan membatasi besarnya investasi yang boleh dilakukan di luar negeri. Ekonomi India akan sedikit diuntungkan oleh kondisi global yang sedikit lebih baik (Utamanya AS dan Eropa). Di tahun 2014 perekonomian India diperkirakan akan tumbuh 4,7 %, sedikit lebih baik dari 4,4 % di 2013.

Perekonomian negara-negara ASEAN (dalam hal ini ASEAN-5) di tahun 2013 mengalami perlambatan yang signifikan, diperkirakan pada tahun 2013 pertumbuhannya 5.0%, di bawah pertumbuhan 2012 : 6,2 %. Perlambatan ini terutama disebabkan oleh menurunnya kinerja perekonomian global, khususnya China, India dan Eropa yang merupakan pasar utama ekspor negara-negara ASEAN. Untuk tahun 2014, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan meningkat menjadi 5,4 %

Indonesia :

Review Keadaan Ekonomi 2013
Kuatnya pertumbuhan kelas menengah telah meningkatkan konsumsi dan membuat impor kita naik dengan signifikan. Sementara itu perekonomian global yang melemah membuat pertumbuhan ekspor kita sulit tumbuh. Harga komoditas yang rendah turut menekan kinerja ekpor kita. Akibatnya, kita mengalami defisit perdagangan, yang telah menekan transaksi berjalan kita. Dengan keadaan yang seperti ini tidaklah mengherankan bila rupiah kita tertekan dan cadangan devisa kita tergerus hingga tinggal US$ 95,68 Milyar pada akhir triwulan ketiga 2013.

Kenaikan harga BBM bersubsidi yang dilakukan pada minggu ketiga Juni 2013 membuat inflasi tahun 2013 berada jauh diatas perkiraan semula. Untuk meredam ekspektasi inflasi BI sudah menaikkan suku bunga hingga 7,5 persen di tahun 2013. Inflasi tahunan diperkirakan mencapai 8,5-9 persen di akhir tahun 2013.

Langkah BI yang mengerek suku bunga ke level 7,5 % bertujuan untuk menekan impor, agar posisi neraca transaksi berjalan menjadi lebih baik. Namun disisi lain, kebijakan moneter kontraktif ini berdampak pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Rupiah melemah dengan sifnifikan di tahun 2013. Pelemahan rupiah dipicu sentimen negatif dari sisi ekternal dan internal. Dari sisi eksternal, isu penghentian kucuran stimulus the Fed (tapering), telah mengakibatkan investor cenderung mengurangi esksposur mereka di negara-negara yang memiliki risiko agak tinggi. Akibatnya, modal cenderung keluar dari negara berkembang, dan mata uang negara-negara tersebut pun cenderung melemah. Dari sisi domestik, sentimen negatif dipicu oleh defisit neraca transaksi berjalan (current account). Kinerja ekspor belum pulih dan laju impor migas yang terus naik menyebabkan neraca perdagangan luar negeri defisit, yang menggerus cadangan defisa Indonesia. BI memandang laju impor harus diperlambat, dengan menaikkan suku bunga dan membuat lemah nilai tukar rupiah. Kenaikan suku bunga diperkirakan akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya juga akan mengurangi permintaan akan produk yang diimpor. Pelemahan rupiah juga diharapkan akan membuat harga produk impor menjadi lebih mahal dan menekan permintaan akan produk impor. Dengan paradigma seperti ini tidaklah terlalu mengherankan bila kita melihat nilai tukar dibiarkan melemah. Kinerja rupiah adalah yang terburuk dibandingkan mata uang negara lain di Asia.

Pada tahun 2013 anggaran pendapatan dialokasikan naik sebesar 10,6 % menjadi 1.502 Triliun rupiah, sementara anggaran belanja meningkat 11,5 persen menjadi 1.726,2 Triliun. Target defisit anggaran 2013 yang ingin dicapai pemerintah sebesar 2,38 persen dari PDB. Hingga akhir Oktober 2013, realisasi anggaran hanya mencapai 67,7 %. Di tahun 2013 pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung melambat. Saat ini motor penggerak ekonomi Indonesia adalah belanja rumah tangga, yang mampu tumbuh hingga 5,5 persen di tribulan III 2013. Sementara itu, laju pertumbuhan ekspor dan investasi cenderung melambat. Untuk menopang ekonomi yang melambat, peran belanja pemerintah menjadi makin penting, penyerapan anggaran menjadi hal yang wajib terus diupayakan. Dengan perkembangan yang disebutkan di atas, perekonomian Indonesia pada tahun 2013 diperkirakan akan tumbuh dengan laju hanya sebesar 5,7 %.

Pertumbuhan ekonomi setahun terakhir belum mampu menciptakan lapangan kerja yang cukup banyak, berkualitas dan inklusif. Berbagai program pembangunan pertanian, industri manufaktur maupun jasa tidak secara eksplisit ditargetkan untuk menciptakan lapangan kerja. Terjadi stagnasi/penurunan jumlah pekerja Indonesia selama setahun terakhir menjadi 110,8 juta pekerja pada Agustus 2013 dibandingkan 110,81 pekerja pada Agustus 2012. Jumlah penganggur terbuka menjadi 7,39 juta dari 7,24 juta pada tahun sebelumnya. Pekerja berdasarkan lapangan usaha masih di dominasi sektor pertanian (38,07 juta) dan perdagangan (23,7 juta). Sebagian pekerja berada di sektor informal (60%) dibandingkan sektor formal (40 %). Sekitar dua-pertiga dari keseluruhan pekerja Indonesia hanya berpendidikan SD (52 juta orang) dan SMP (20,5 juta orang). 17,84 juta berpendidikan SMA dan 9,99 juta berpendidikan SMK, 7,57 juta berpendidikan universitas dan 2,92 berpendidikan diploma.

Prospek Perekonomian 2014

Angka inflasi diprediksi akan berada pada level yang relatif rendah dengan asumsi pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi di tahun 2014. Diperkirakan inflasi di tahun 2014 akan cenderung turun dan berada di kisaran 4,75-5,29 persen pada akhir tahun 2014.

BI diperkirakan akan tetap mempertimbangkan defisit transaksi berjalan dalam menentukan kebijakan moneternya. Mengingat kita masih akan mengalami defisit neraca transaksi berjalan dan rupiah yang cenderung lemah, BI diperkirakan akan mempertahankan BI rate pada level 7,5 persen hingga akhir tahun 2014. Kebijakan moneter tidak mendukung pertumbuhan yang lebih cepat. Neraca transaksi berjalan yang diperkirakan masih akan defisit tahun depan, ditambah lagi dengan ekonomi yang cenderung melambat, akan membuat sebagian investor ragu menanamkan modalnya di Indonesia. Akibatnya, di tahun 2014 rupiah diperkirakan akan cenderung stabil lemah dan bergerak dengan nilai rata-rata pada kisaran 10.500-11.500 rupiah per dolar.

Belanja Pemerintah dalam APBN 2014 hanya mengalami pertumbuhan riil sekitar 1,2 persen. Artinya dampak dari belanja fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi secara riil di tahun 2014 akan amat terbatas. Keadaan akan diperburuk lagi oleh masalah penyerapan anggaran yang belum membaik. Jadi daya dorong fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi akan terbatas.

Pada tahun 2014 pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan tidak jauh dengan tren yang terjadi menjelang akhir tahun 2013. Ekonomi akan tumbuh dengan laju 5,5 persen di tahun 2014, lebih lambat dari 5,7 persen di tahun 2013.

Belanja rumah tangga masih akan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2014. Investasi sebenarnya mempunyai peluang untuk tumbuh lebih cepat. Sayangnya, kebijakan moneter yang masih diperkirakan akan ketat akan sedikit memperlambat aktivitas investasi utamanya yang berasal dari dalam negeri.

Permintaan di pasar global pun akan cenderung membaik di tahun 2014. Walaupun perbaikannya belum terlalu kuat, tetapi sudah cukup untuk memberi ruang kepada ekspor kita untuk tumbuh lebih cepat dan memabantu ekonomi kita untuk terus tumbuh.

Akan tetapi kita harus waspada, saat ini ekonomi Indonesia sudah melambat. Bila terus deperlambat (utamanya melalui kebijakan moneter), maka ekonomi kita dapat memasuki masa perlambatan yang berkesinambungan. Indonesia harus lebih berhati-hati dalam memperlambat pertumbuhan ekonominya.

Tahun 2014 adalah tahun yang penuh tantangan bagi perekonomian Indonesia. Ada tiga siklus dalam posisi menurun pada saat yang bersamaan yaitu siklus komoditas, siklus kredit/likuiditas dan siklus politik. Kombinasi ketiga siklus inilah yang menjadi penghambat utama pertumbuhan ekonomi dan ancaman terhadap stabilitas ekonomi pada thaun 2014.

Namun apabila pemilu tahun 2014 berjalan dengan lancar dan kita mendapatkan pemimpin yang baik, maka euphoria kepercayaan akan menggerakkan investasi dan aliran dana, sehingga rupiah dan pasar modal bisa mengalami pemulihan pada triwulan IV. Hal ini dapat berkesinambungan jika pemerintah baru mau kerja keras melakukan transformasi struktural.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »